Home » » Ryan Joseph Giggs

Ryan Joseph Giggs

Written By test on Minggu, 23 Juni 2013 | 08.35

51224


------- "Hanya ada dua pemain yang membuat saya menangis saat menyaksikan sepak bola. Pertama adalah Diego Maradona dan lainnya adalah Ryan Giggs." Alessandro del Piero -------


Penikmat sepak bola pada tahun 1980-an mengingat Ryan Giggs dengan sederhana: pria kurus berwajah bocah dengan kaki-kaki panjang serta berkostum kedodoran. Meski celananya pun gedombrangan, bocah berambut ikal yang sebagian menjuntai menutupi matanya itu berlari amat kencang. Jika dia bergerak tanpa bola, kecepatan larinya bisa bersaing dengan sprinter di lintasan lari olimpiade. Dengan bola, Giggs tetap penggiring brilian yang bisa mengecoh empat sampai lima pemain. Kita mengingatnya terus.


Selasa lalu, si bocah cungkring itu melakoni laga ke-1.000 sebagai pemain profesional saat Manchester United (MU) menjamu Real Madrid di babak 16 besar Liga Champions. Sayang, pada hari bersejarah itu, tim ”Setan Merah” tumbang dan tersingkir dari salah satu gelaran prestisius itu.


Berbeda dengan 20 tahun lalu saat dia menjalani debut Liga Champions melawan klub Honved Budapest, Giggs tampil dengan janggut yang mulai memutih. Gerakan, lari, dan giringan bolanya memang sudah tidak selincah dulu, tetapi penampilannya tetap memukau. Berduet dengan Nani, sebelum pemain asal Portugal itu diganjar kartu merah, Giggs membuat lini tengah MU menjadi dominan dan memaksa pemain sekelas Sergio Ramos dan Alvaro Arbeloa bekerja keras.


Meski MU tersingkir dengan tragis, itu tidak mengurangi arti tonggak sejarah Giggs. Lagi pula, penampilan ke-1.000 sebagai pemain profesional adalah pencapaian yang hanya bisa diraih sedikit sekali atlet. Selasa lalu, Giggs menggenapi 932 penampilannya bersama MU, plus 64 caps bersama tim nasional Wales dan 4 laga untuk tim Britania Raya di Olimpiade London 2012, lengkaplah milestone yang dicetaknya.


Namun, bukan sekadar catatan statistik yang membuatnya layak disebut legenda. Giggs dihormati karena dia bukan lagi pemain bola berusia muda, apalagi berada di usia emas. November mendatang, pria santun itu berusia 40 tahun, usia yang luar biasa untuk tetap bisa kompetitif di sepak bola elite Eropa. Giggs sejajar dengan nama-nama legendaris seperti Eric Gerets, Dino Zoff, atau Roger Milla yang tetap memukau pada usia di atas 35 tahun.


Namun, Giggs tetap berbeda. Dia berada di sebuah era ketika sepak bola dimainkan dengan tempo yang begitu tinggi sehingga hanya pemain dengan rezim stamina terbaik yang bisa bertahan. Perkembangan teknologi bola dan sepatu membuat olahraga ini dimainkan dengan irama yang semakin cepat. Perpaduan speed and power game yang berkembang pesat di Eropa, terutama di Inggris yang kental dengan laga yang sangat menguras tenaga, mampu diadaptasi Giggs, bahkan dengan determinasi yang nyaris tidak pernah berkurang.


Sebagai atlet, Giggs memang teladan. Hampir tidak pernah terlihat dia berada di bar atau pub selepas latihan di Carrington. Ketika hampir semua pemain menenggak alkohol, bintang kelahiran Cardiff, 29 November 1973, ini memilih jus jeruk.


Menurut ibunya, Lynne, sejak kecil Giggs menjalani hidup dengan sederhana, tidak pernah membuat keluarganya susah. ”Satu-satunya masalah yang dia timbulkan adalah Giggsy tidak pernah berhenti menendang bola,” ujar Lynne sembari mengingat Giggs kecil yang selalu bermain bola di jalanan di rumah mereka yang sederhana di Pentrebane. Tahun 1980, saat usianya baru enam tahun, Giggs mengikuti kedua orangtuanya pindah ke Salford, Greater Manchester. Ayah Giggs, Dany Wilson, pemain rugbi profesional, harus pindah ke wilayah itu karena mengikat kontak dengan klub Swinton RLFC.


Setelah pindah ke Salford, Giggs memperkuat klub lokal Dean FC yang dilatih pemandu bakat Manchester City, Dennis Schofield. Schofield-lah yang mendorong Giggs kecil bergabung dengan tim yunior Manchester City. Namun, tim berjuluk ”Biru Langit” itu tak mampu menahan remaja kurus ini, yang juga diincar klub tetangga, MU, lewat agen dan pencari bakatnya, Harold Wood. Mendengar laporan Wood, Manajer MU Alex Ferguson bergerak cepat dengan membujuk Giggs bergabung ke Old Trafford.


Ferguson butuh berhari-hari membujuk Giggs untuk bergabung ke Carrington sebelum Giggs, yang kala itu belum genap 14 tahun, setuju. ”Saya berutang roti isi dan jus buah kepada ibunya,” ujar Ferguson yang berhari-hari tekun membujuk dan menjemput Giggs remaja dari Salford untuk diboyong ke Carrington, pusat latihan MU.


Sempat memperkuat tim nasional Inggris U-16, Giggs kemudian memutuskan menjadi warga negara Wales setelah perceraian Wilson dengan Lynne. Giggs mengganti nama belakangnya dari Wilson menjadi Giggs, sesuai nama gadis ibunya. Sejak usia 18 tahun, Giggs memperkuat tim nasional Wales dan membukukan 12 gol dalam 64 penampilan.


Tumbuh sebagai remaja tanpa figur ayah, Giggs menjadi begitu dekat dengan Ferguson yang sudah seperti ayahnya sendiri. Hubungan mereka yang begitu dekat membuat Ferguson tidak pernah kehilangan kepercayaan kepada pria yang menikah dengan Stacey Cooke tersebut. Setelah memperpanjang kontrak Giggs hingga setahun ke depan, Ferguson menyatakan Giggs akan tetap menjadi bagian dari sejarah panjang MU.


Kecintaan Ferguson kepada Giggs bukan sekadar karena sederet gelar yang pernah ikut disumbangkannya, melainkan karena kesetiaan luar biasa dari bintang sepak bola. Giggs, seperti halnya Paul Scholes, serta Steven Gerrard dan Jamie Carragher (Liverpool), adalah tipikal one-club man, pemain yang menghabiskan seluruh karier profesional di satu klub. Sebuah kesetiaan yang langka di tengah arus industri sepak bola yang bergelimang uang.

Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2010 - 2013. TAMORA SPORT - All Rights Reserved.
Hosting by : Blogger - Nazuka.net
Template inspired by detikcom
Editing by TamoraNetwork